Jumat, 31 Desember 2010

Kampung XL: Kontribusi untuk Negeri

Ngobrol lama ternyata dapat membuat kita mendapatkan sesuatu, contohnya kali ini Otak mendapatkan tulisan dari teman, tulisan tersebut yaitu

Kampung XL: Kontribusi untuk Negeri


Beberapa waktu yang lalu kasus terkait tenaga kerja indonesia (TKI) mencuat kembali. Kasus penyiksaan keji terhadap Sumiati, tenaga kerja wanita dari Indonesia (TKW) asal Dompu (NTB) di Arab Saudi, dan kematian yang mengenaskan dari TKW asal Cianjur bernama Kikim Komalasari tengah menghiasi kepiluan Bangsa Indonesia. Namun, kasus-kasus terkait TKI yang pernah terjadi tidak mengurangi jumlah TKI keluar negeri dari waktu ke waktu. Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri sampai awal Februari 2010 jumlahnya mencapai 2.679.536 orang. Dari jumlah tersebut, kebanyakan berasal dari daerah pedalaman dan pinggiran kota.

Alasan mereka memilih bekerja ke luar negeri sebagai TKI adalah karena faktor penarik dan faktor pendorong. Faktor penariknya adalah adanya upah yang lebih tinggi di luar negeri daripada upah di Indonesia dengan pekerjaan yang sama. Sedangkan faktor yang paling berpengaruh adalah faktor pendorong di dalam negeri berupa pekerjaan dan penghidupan yang layak.
Banyaknya TKI dari daerah pedalaman dan pinggiran kota hanyalah salah satu gambaran kondisi kesejahteraan di wilayah tersebut. Daerah pedalaman dan pinggiran kota memiliki kondisi sosial, ekonomi, dan fisik yang relatif tertinggal dibandingkan pusat keramaian kota. Selain kondisi sosial, ekonomi, dan bangunan fisik, ketersediaan informasi dan sarana prasarana di daerah terpencil juga mengalami ketertinggalan. Di satu sisi, perkembangan teknologi informasi di Indonesia terbilang cukup maju. Pemanfaatan teknologi informasi di suatu wilayah akan mempengaruhi peningkatan kesejahteraan masyarakat, terutama dalam hal sosial, ekonomi, dan aksesibilitas. Dengan pemanfaatan teknologi informasi, banyak industri rumahan maupun industri besar yang meraup banyak keuntungan. Dengan perkembangan teknologi informasi pula, pendidikan juga semakin bermutu.

Operator Membangun Negeri

Operator telekomunikasi sebagai salah satu komponen vital dalam perkembangan informasi di Indonesia memiliki peranan dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat pedalaman dan pinggiran kota. Peran secara langsung adalah melalui pembangunan BTS-BTS yang dibutuhkan operator selular dalam memperluas jaringannya, terutama di daerah pelosok. Kehadiran menara BTS ini juga turut memberi manfaat bagi pertumbuhan ekonomi daerah.

Namun, pembangunan BTS di seluruh wilayah Indonesia juga menyerap banyak keuntungan bagi perusahaan operator disamping memberikan manfaat pada masyarakat. Keuntungan itu didapat melalui pemanfaatan layanan operator yang bersangkutan oleh pelanggan. Bisnis ini memang sangat potensial dan menggiurkan untuk dijalankan di Indonesia. Operator telekomunikasi Indonesia mempunyai total pendapatan yang sangat besar mencapai Rp 50 triliun per tahun dari berbagai layanan seperti jasa internet, fixed phone, multimedia dan lain-lain.

Untuk itulah dibutuhkan sebuah langkah konkrit dari perusahaan seluler untuk menghilangkan pandangan negatif terhadap dari masyarakat, yakni predikat mengambil keuntungan melalui hasil konsumsi layanan seluler semata.

Hadirnya Corporate Social Responsibility atau lebih dikenal dengan CSR merupakan salah satu program bakti sosial sebagai bentuk kontribusi nyata positif perusahaan seluler kepada masyarakat. Ada beberapa contoh program CSR yang telah dilakukan beberapa perusahaan di Indonesia belakangan ini. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah apakah CSR yang selama ini dilakukan telah mencapai titik optimal atau hanya sekedar menggugurkan kewajiban dari aturan yang ditetapkan Pemerintah Indonesia?

Pertanyaan ini hendaknya menjadi pekerjaan rumah bagi para pelaku industri operator seluler. Hanya komitmen dan niat kuatlah yang akan melahirkan kebijakan-kebijakan internal perusahaan yang mampu memberi kontribusi positif bagi kemajuan Indonesia. Banyak hal yang dapat dilakukan pelaku industri telekomunikasi untuk memberi manfaat lebih bagi masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya. Maka, menjadi tidak berlebihan jika sektor industri ini kemudian dituntut untuk selalu proaktif dalam upaya meningkatkan volume dan variasi program CSR.

Social Entrepreneurship

Salah satu bentuk program CSR yang memberikan manfaat besar dan nyata adalah CSR yang memberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. Akhir-akhir ini muncul istilah Social Entrepreneurship (Sociopreneurship) sebagai suatu usaha sosial masyarakat berkelanjutan. Istilah ini semakin populer, terutama setelah salah satu tokohnya, Dr. Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank di Bangladesh mendapatkan hadiah Nobel untuk perdamaian tahun 2006. Upaya yang dilakukan beliau dalam mengembangkan bank untuk melayani kaum miskin merupakan suatu inovasi yang bertentangan dengan kaidah target pasar bank, yaitu mereka yang mampu dan berisiko kecil.

Namun, di Indonesia sendiri kegiatan ini masih belum memperoleh perhatian lebih dari pemerintah dan para tokoh masyarakat. Hal ini dikarenakan masih belum ada keberhasilan menonjol yang diperoleh hingga tingkat nasional. Oleh karena itu, upaya untuk memasyarakatkan Social Entrepreneurship (sociopreneurship) harus mendapatkan dukungan semua pihak yang mendambakan terwujudnya kesejahteraan rakyat yang merata dan melalui aksi yang nyata.

Bill Drayton tahun 1980, pendiri Ashoka Fellows, menyebutkan karakteristik kegiatan wirausaha sosial (sociopreneurship) sebagai berikut:
1. Tugas wirausaha sosial ialah mengenali adanya kemacetan atau kemandegan dalam kehidupan masyarakat, dan menyediakan jalan keluar dari kemacetan atau kemandegan itu. Mereka menemukan permasalahan dalam masyarakat, kemudian memecahkan masalah dengan mengubah sistemnya, menyebarluaskan pemecahannya, dan meyakinkan seluruh masyarakat untuk berani melakukan perubahan.
2. Wirausaha sosial tidak puas hanya memberi “ikan” atau pun mengajarkan cara “memancing ikan”. Ia tidak akan diam hingga “industri perikanan” pun berubah.


Dari dua karakteristik tersebut, aktivitas sociopreneurship akan mampu memajukan masyarakat Indonesia, terutama di daerah pedalaman dan pinggiran kota. Banyak contoh yang dilakukan oleh para sociopreneur untuk memajukan masyarakat kecil, terutama melalui pendidikan dan perekonomian.

Para operator perusahaan seluler bisa menjalankan program sociopreneurship, terutama di daerah pedalaman melalui program corporate social responsibility (CSR) yang dimilikinya. PT. Excelcomindo Pratama Tbk. (XL) sebagai operator seluler yang sejak 2007 sampai 2010 telah mendapatkan penghargaan untuk program CSR-nya memiliki potensi besar untuk menjalankan aktivitas sociopreneurship. CSR dari XL bisa mewujudkan kemajuan di daerah pedalaman atau pinggir kota melalui pembinaan kawasan tertentu. Langkah awal yang dilakukan adalah dengan memilih daerah binaan yang bisa disebut sebagai “Kampung XL”. Pemilihan daerah tersebut didasarkan pada beberapa kriteria yang ditetapkan, misalnya kondisi pendidikan, perekonomian yang rendah, dan potensi daerah tersebut.

Dalam bidang pendidikan, operator besar di Indonesia ini bisa mendirikan sekolah berbasis teknologi informasi di kampung tersebut. Secara bertahap, kualitas SDM di daerah tersebut semakin meningkat. Alangkah luar biasa jika di kemudian hari ada alumni siswa di “Kampung XL” tersebut bisa berkuliah di perguruan tinggi, bahkan sukses meniti karier.

Dalam bidang perekonomian pun bisa diadakan suatu pusat pembinaan kewirausahaan bagi masyarakat setempat berbasis potensi lokal. Bagi daerah yang mempunyai potensi agribisnis, program CSR XL melalui pusat pembinaannya mampu membimbing masyarakat yang bersangkutan untuk bisa menanam dengan baik, memanfaatkan inovasi teknologi pertanian untuk optimalisasi hasil, dan menggunakan teknologi informasi untuk pemasarannya. Apapun program yang digagas XL di “Kampung XL” Indonesia, manfaatnya akan mampu dirasakan oleh masyarakat setempat secara nyata, yakni meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan pendidikan.

Inilah bentuk sociopreneur sustainable (berkelanjutan) yang kelak bisa mewujudkan kesejahteraan daerah-daerah tertentu di Indonesia, terutama wilayah pedalaman dan masyarakat pinggiran kota. Ketika dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat XL mampu mendirikan “Kampung XL” dan menginspirasi perusahaan lain untuk berkontribusi besar bagi bangsa, saat itulah Bangsa Indonesia bisa merasakan sumbangsih XL untuk Negeri.

Dalu Nuzlu Kirom(nama teman Otak)

0 komentar:

Posting Komentar